Follow Me @rodhimardhiyah

Selasa, 25 April 2017

Tiga Semester yang Pernah Bersama

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis mengenai hal yang satu ini. Namun sepertinya akan menjadi tulisan yang agak panjang jika membahas hal ini. Oleh karena itu saya butuh segelas teh hijau hangat untuk menemani saya menulis kali ini. Karena selain memberikan ketenangan, teh hijau hangat juga dapat memberikan inspirasi ke dalam otak saya. Serta saya butuh ruang dan waktu yang dapat mendukung tulisan ini. Terkesan lebay mungkin, tapi begitulah adanya saya.

Kali ini saya akan membahas mengenai 3 semester di bangku kuliah yang pernah saya lewati. Bagaimana saya bersama teman yang lainnya berjuang membagi waktu, tenaga, pikiran, biaya, dll. Lebih tepatnya pembahasan kali ini mengenai suka duka menjadi seorang pekerja sekaligus pelajar. Namun ini hanyalah sudut pandang dan opini saya. Kalau teman-teman memiliki pendapat yang lain, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar yaa :)

Menurut saya mereka yang mampu menyelesaikan perkuliahan sambil bekerja, merupakan sosok yang sangat kuat dan tangguh, patut untuk diacungi jempol. Karena tidak mudah untuk bertanggung jawab penuh atas sebuah pekerjaan (Terikat kontrak perusahaan) serta meluangkan waktu untuk berkuliah pada sisa waktu yang tersedia.

Apalagi hidup ini bukan hanya masalah pekerjaan dan perkuliahan saja, masih banyak masalah lain di luar keduanya. Bekerja sambil berkuliah ataupun sebaliknya, pasti banyak yang perlu dikorbankan. Mulai dari segi waktu, biaya, tenaga, pikiran, dll. Namun itulah seni dari sebuah perjuangan hidup untuk menjadi yang lebih baik lagi. Pasti ada fase dimana waktu 24 jam dalam sehari berasa kurang banget. Apalagi jika ada deadline tugas sudah pasti ketar-ketir.

Saya-pun sempat merasakannya, dimana mesti membagi pikiran, tenaga, dan waktu untuk bekerja dan berkuliah. Dan membagi gaji untuk biaya-biaya yang memang sudah menjadi kewajiban saya.  Karena setiap orang tidak mempunyai kesempatan yang sama, dan jalan hidup setiap orang memang berbeda. Maka untuk mencapai apa yang mereka inginkan juga berbeda-beda jalannya. Namun selama kita menikmati proses tersebut maka akan terasa mengasyikkan dan tidak ada rasa terbebani. kuncinya : "Tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi, cukup lakukan semampu yang kita bisa. Kalau ada tugas dari dosen jangan terlalu dibawa pusing, karena tugas itu untuk dikerjakan sampai tuntas, bukan untuk dipusingkan."

Sebelumnya saya mengira bahwa dunia perkuliahan itu sangat killer dan menyeramkan. Karena saya tidak jarang menemukan status di media sosial dari para mahasiswa. Dimana kita disuguhkan dengan tugas-tugas yang bikin kepala pusing, lalu dosen-dosen yang killer, ditambah lagi teman-teman yang dalam artian "masing-masing". Namun benar saja perkataan yang menyatakan bahwa "Jangan menilai sesuatu hal sebelum kita merasakannya".

Dunia perkuliahan tidaklah seseram apa yang saya bayangkan, semenjak saya memulai perkuliahan di salah satu kampus yang berada di Tangerang. Dimulai pada Januari 2015, saya bersama teman seangkatan saya yang disebut "Intake Januari 2015" merasakan bangku perkuliahan. Diawali dengan semester pendek yang kami jalankan bersama selama sebulan penuh. Yaitu setiap senin s/d jum'at malam dan sabtu dari siang sampai sore hari.
SOD STMIK Global
Saat SOD (Student Orientation Day)

STMIK Global
Kegiatan perkuliahan di semester pendek

STMIK Global
Saat SOD (Student Orientation Day)

Kami intake januari 2015 berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari status, ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya pacar, dan ada juga yang masih jomblo alias single seperti saya. Dan soal pekerjaan pun berbeda, ada yang bekerja kantoran, ada yang bekerja di pabrik, ada yang bekerja di bandara, ada yang bekerja sesuai passion, dan ada juga yang pengangguran pada saat itu yaitu saya. Lalu ada yang asli Tangerang dan ada juga orang rantauan.

Walaupun kami dari latar belakang yang berbeda-beda, kami tetaplah satu tujuan yang sama yaitu berkuliah untuk menuntut ilmu. Kami sudah seperti keluarga sendiri, dengan menjalin komunikasi yang baik serta memahami satu sama lain, inilah yang mengubah pemikiran saya. Sebenarnya kuliah itu asyik, dimana kita dapat menambah jaringan pertemanan. "Bukankah banyak teman banyak rezeki?" Saya percaya dengan kalimat yang satu ini.

Setelah sebulan kami menjalankan semester pendek serta berjuang bersama-sama. Namun pada akhirnya kami mesti berpisah sesuai dengan kelas serta jurusan yang kami ambil masing-masing. Inilah titik kesedihan yang kami rasakan, dimana solidaritas sudah terjalin dengan baik namun pada akhirnya kami mesti berpisah seperti ini. Hidup memang ada fase seperti ini, "Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan". Perpisahan yang dimaksud disini adalah kami tidak lagi belajar serta berjuang bersama-sama dalam satu kelas.

Untuk semester 2 saya memutuskan untuk mengambil kelas reguler malam yang berlangsung dari hari senin s/d jum'at pukul 18:30 s/d 21:30. Namun dari intake januari 2015 tidak hanya saya yang masuk kelas reguler malam (Sebut saja SI14M) ada juga teman yang lainnya. Jadi saya tidak terlalu kelihatan seperti orang bingung untuk masuk ke kelas baru.

Menurut saya suka dukanya  mengikuti kelas malam yaitu, dimana kita seusai pulang kerja dengan tenaga yang tersisa kita mesti menyiapkan otak kita untuk menerima materi yang diberikan. Apalagi kalau ada dosen yang memberikan tugas deadline, sudahlah kita mesti begadang di malam hari sampai tugas tersebut selesai. Dan sudah kebayang pagi hari nya kita mesti lanjut bekerja kembali dengan sisa tenaga dan pikiran. Kami pun pernah mengerjakan tugas deadline bersama-sama di salah satu kontrakan teman kami. Untungnya ada kopi yang menemani kami begadang waktu itu, seperti pada gambar di bawah.
Kopi Torabika
Itu gelasnya ada berapa guys? :D

Walaupun mungkin terlihat berat untuk dijalankan, sebenarnya ini merupakan sesuatu yang mengasyikkan dan mempunyai kenangan tersendiri untuk kami. Bersama-sama mengerjakan tugas, saling bertukar pikiran, tidur bareng dengan ruang seadanya, mencoba menahan tawa pada tengah malam, karena samping kontrakan ada anak kecil, ya walaupun tetap saja keceplosan untuk tertawa. Dan yang paling penting tugas deadline tersebut dapat dikirim pada saat itu juga.

Tidak hanya itu, kelas malam juga saat dimana kami saling berbagi makanan. Dan juga ada yang berdagang makanan untuk kami yang sedang kelaparan. Bagaimana tidak kelaparan? Kami rata-rata pulang kerja langsung ke kampus, tidak sempat untuk makan di rumah. Dan momen berbagi makanan merupakan kenangan tersendiri untuk saya. Tidak hanya itu, seusai belajar kami juga tak jarang untuk mampir dulu bersama-sama ke warung nasi goreng depan kampus sebelum pulang ke rumah.

Dan suka citanya menjadi anak kelas malam yaitu kita mempunyai hari libur, yaitu sabtu dan minggu. Otomatis kami mempunyai kesempatan untuk mengikuti kegiatan UKM yang dilaksanakan pada hari minggunya. Lagi-lagi kesempatan untuk menambah jaringan pertemanan dan wawasan sangat terbuka lebar jika mengikuti UKM.

Karena berbagai kondisi, saya memutuskan untuk pindah ke kelas JSM (Jum'at Sabtu Minggu) pada semester 3. Tentunya berbeda dengan kelas malam, saya mengikuti perkuliahan kali ini pada hari sabtu dari siang sampai sore dan pada hari minggunya dari jam 09:00 s/d 15:00. Selama menjalani perkuliahan semester 3 ini, tentunya kami kelas JSM tidak mendapatkan jatah libur. Dari hari senin s/d jum'at kami bekerja begitu pula dengan hari sabtu dan minggu yang kami isi dengan berkuliah.

Menurut saya mengikuti kelas JSM sangatlah menantang dan lebih terasa melelahkan. Seminggu full otak kami dipakai, tidak ada hari libur. Apalagi kalau dari pekerjaan menyuruh untuk lembur pada hari sabtu ataupun minggunya, sedangkan pada hari tersebut kita mesti mengikuti UAS atau UTS. Dilema banget rasanya kalau sudah seperti itu. Nah kalau kelas JSM ini, tidak masuk sehari saja, maka kami akan sangat ketinggalan materi. Bisa saja sih materinya minta ke teman yang masuk pada hari itu, namun kalau mata kuliahnya praktek yang bikin repot.

Saya pernah bahkan beberapa kali tidak masuk untuk mata kuliah yang praktek, dan untuk mengejar pemahaman tentang materi tersebut saya mesti inisiatif searching-searching di internet. Karena saya tipe orang yang tak mau merepotkan teman saya untuk mengajarkan saya, selama saya masih mampu untuk memahaminya melalui internet ataupun buku. Karena menurut saya, teman saya pasti sudah sibuk dengan urusannya masing-masing, dan saya tidak mau menambah kesibukan mereka.

Dan untuk sangat memahami materi tersebut saya mesti menonton beberapa video di youtube. Tidak hanya itu, saya juga mesti beberapa kali merubah kodingan hingga mendapatkan hasil yang diinginkan. Namun itu semua adalah seni dalam dunia perkuliahan. Kalau kita belum paham yaa kita harus inisiatif buka internet atau mungkin baca-baca buku. Kalau sudah berusaha segala cara namun tetap tidak paham barulah bertanya ke teman atau japri dosennya langsung.

Baik itu kelas semester pendek, kelas reguler malam, ataupun kelas JSM mempunyai suka duka serta kenangan tersendiri pastinya. Menurut saya duduk di bangku perkuliahan, tidak hanya sekedar untuk mengejar title di belakang nama. Sia-sia kalau hanya dengan tujuan demikian. Banyak manfaat lainnya untuk kehidupan kita ke depan.

Dengan berkuliah kita dapat menambah jaringan pertemanan, belajar berkomunikasi yang baik, mengubah cara berpikir kita, belajar mengatasi masalah serta menemukan solusinya, mengetahui jati diri kita untuk ke depannya, menjadikan pribadi yang lebih dewasa, dan yang paling utama adalah menambah ilmu pengetahuan yang belum kita ketahui sebelumnya. Tidak heran jika rata-rata perusahaan mencari calon karyawannya yang lulusan D3 atau S1 bahkan S2, mungkin disebabkan karena perihal tersebut.

Kuliah juga memberikan kita bekal untuk membangun usaha sendiri. Lulusan D3 ataupun S1 bahkan S2 mempunyai peluang yang lebih untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Tidak melulu seorang sarjana menggunakan title mereka untuk melamar ke perusahaan / bekerja untuk orang lain. Ada juga sarjana yang ingin menggunakan ilmu yang sudah dipahaminya untuk membangun usahanya sendiri, sehingga dia dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Namun sangat disayangkan karena berbagai kondisi yang tidak memungkinkan, saya mesti mengalah untuk melanjutkan bangku perkuliahan. Saya hanya merasakan 3 semester yang pernah bersama. Sehingga saya hanya mengetahui kulit dari bangku perkuliahan yang sebenarnya. Belum sempat merasakan yang namanya KKN ataupun KKP, apalagi sidang skripsi.

Karena perihal tersebut, saya mesti memutar otak untuk menambah kemampuan saya. Agar dapat bersaing dengan mereka yang sarjana. Mungkin rata-rata perusahaan mencari calon kandidatnya yang sarjana. Tapi tidak menutup kemungkinan masih ada perusahaan yang melihat pelamarnya dari segi skill yang dimilikinya, apalagi jika pelamarnya mempunyai sertifikat dari LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi).

Tetapi saya masih mempunyai harapan, bahwa jika suatu saat nanti saya diberikan kesempatan untuk berkuliah. Dan ada hal yang membuat saya dilema, yaitu memilih jurusan perkuliahan, banyak sekali jurusan yang saya inginkan. Pertama jurusan multimedia, karena saya berpikir bahwa dari tahun ke tahunnya teknologi semakin cepat berlaju, kalau saya tidak meningkatkan skill di multimedia, maka saya hanya akan menjadi penonton saja.

Kedua, Sastra Indonesia. Karena memang cita-cita saya menjadi seorang penulis. Sehingga kalau mengambil jurusan sastra indonesia, saya dapat belajar untuk menjadi seorang penulis secara mendalam. Dan saya berpeluang besar untuk menggapai cita-cita tersebut.

Ketiga, akuntansi. Karena saya memang sewaktu SMK mengambil jurusan akuntansi dan menurut saya, hidup ini tidak lepas dari merincikan biaya-biaya.  Apalagi seorang wanita seperti saya kelak akan menjadi seorang istri, yang akan mengatur keuangan bulanan. Dan menurut saya, setiap perusahaan pasti membutuhkan seorang akuntan.

Keempat, Teknik Elektro. Simple nya saya ingin apa yang saya pelajari dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga jika saya mengambil jurusan ini, kalau listrik di rumah sedang konslet, saya mampu membenarkannya. Namun saya juga tahu, bahwa itu tidak mudah dan banyak resikonya. Lagi-lagi ini hanyalah salah satu impian saya.

Tetapi intinya, saya ingin kalau berkesempatan untuk berkuliah kembali. Saya dapat mendalami perkuliahan tersebut, sehingga saya mampu menjadi seorang wirausahawan sekaligus penulis. Minimal saya menjadi boss untuk diri saya sendiri. Namun tentunya itu semua membutuhkan proses-proses yang panjang, tidak sekilat petir.

Untuk kalian teman-teman intake januari 2015, tetap semangat menjalani kuliahnya. Percayalah diluar sana masih banyak teman kita yang ingin berkesempatan untuk kuliah. Dan sedang berusaha untuk dapat merasakan bangku perkuliahan yang sesungguhnya. Kejar cita-cita kalian sampai tercapai. Tuhan itu maha besar, jangan takut untuk mempunyai mimpi besar.

Terimakasih sudah mau membaca artikel ini. Jika ditemukan kesalahan menulis, jangan segan untuk mengkritik di kolom komentar yaa :)






Posting Komentar