Follow Me @rodhimardhiyah

Thursday, January 18, 2018

Berjalan di Tepian Cisadane

January 18, 2018 0 Comments
Sudah lama tidak merasakan berjalan kaki di tepian Cisadane. Dulu, sewaktu SMK sering berjalan di tepian Cisadane karena jarak sekolah yang terbilang dekat dari Cisadane. Yaitu SMK Al-Ijtihad yang lebih tepatnya beralamat di Jl. Assalam, Gerendeng, Karawaci. Kala itu 6 atau 7 tahun lalu, tepian Cisadane masih polos. Mungkin hanya terdapat beberapa pedagang kaki lima saja. Beda hal jika sedang ada acara Festival Cisadane, segala macam bazar, panggung pertunjukan, lomba mendayung, dan berbagai aktifitas lainnya membuat tepian Cisadane menjadi ramai.

Dari tahun ke tahun, kini Tepian Cisadane semakin berkembang. Terlihat perkembangan yang begitu bersahabat dengan dibangunnya berbagai ikon dan pemberian warna yang menjadikan Tepian Cisadane semakin hidup dan bersahabat untuk dijadikan tempat bercengkrama.

Kamis 11 Januari 2018 minggu kemarin lebih tepatnya, setelah saya bermain di Taman Gajah Tunggal yang artikelnya bisa dibaca di sini http://rodhiyatummardhiyah.blogspot.co.id/2018/01/taman-gajah-tunggal-yang-instagramable.html. Saya bersama sang kakak, memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi tepian Cisadane dimulai dari Taman Gajah Tunggal.

Siang itu, kami sangat menikmati perjalanan karena kini Tepian Cisadane sudah sangat bersahabat untuk pejalan kaki seperti kami. Mulai dari Jalan Perintis Kemerdekaan, yang di tepian Cisadane diberi pagar pembatas berwarna merah dan difasilitasi tempat duduk berwarna putih yang unik tentunya bisa diajak untuk cekrak-cekrek. Seperti gambar di bawah ini.
Tepian Cisadane
Menikmati udara segar tepian cisadane di Jln. Perintis Kemerdekaan

Lalu, setelah itu kami berjalan mengambil arah kiri yang berarti memasuki daerah Pasar Lama, masih dengan nama jalan yang sama yaitu Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan, Kota Tangerang. Sebelumnya kami disuguhkan dengan ikon yang bertuliskan "Kampung Bekelir". Ikon yang sangat unik dan penuh warna sesuai dengan tulisannya yaitu "Bekelir". Melalui ikon itu, kami diberitahu bahwa kami akan memasuki wilayah yang berwarna-warni.
Pasar Lama
Kami mengambil arah kiri


Kampung Bekelir
Kampung Bekelir

Dibuka dengan trotoar yang berwarna-warni, lalu dinding dengan gambar-gambar kreatif dari para seniman, serta genteng yang berwarna-warni, kami mengawali perjalanan menyusuri Kampung Bekelir. Perjalanan yang sangat menyenangkan, siang itu sengatan matahari tidak begitu terasa karena pohon-pohon yang berdiri tegak telah menemani perjalanan kami.
Kampung Bekelir
Suasana Kampung Bekelir

Yes, kami merasa siang itu seperti wisatawan dari luar kota. Mungkin, karena kami sudah lama tidak berjalan kaki di tepian Cisadane sehingga kaget dengan perubahan yang sangat menyenangkan ini. Berjalan langkah demi langkahnya sambil menikmati keunikan dari Kampung Bekelir dan tidak lupa mengambil beberapa potret gambar untuk dijadikan informasi pada tulisan kali ini.
kampung Bekelir
Salah satu lukisan di dinding kampung bekelir
kampung Bekelir
Suasana Jalan Kampung Bekelir

Lalu, selanjutnya kami memasuki Jalan Kali Pasir Indah Kota Tangerang. Lagi-lagi sesuatu yang unik telah menyambut kami, yaitu Flying Deck. Layaknya jembatan yang sedang terbang jika kita menaikinya. Pagar yang menjadi pembatas Flying Deck terbuat dari besi dengan cat berwarna merah, sedangkan lantainya terbuat dari pvc decking, lalu kursi yang menjadi fasilitas tambahan untuk pengunjung yang ingin duduk santai menikmati udara segar di tepian sungai Cisadane.
Jl. Kalipasir Indah
Jl. Kalipasir Indah

Flying Deck
Flying Deck
Flying Deck
Flying Deck

Flying Deck ini sepanjang 142 meter dengan lebar 3 meter yang dibangun oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporparekraf) Kota Tangerang pada Tahun 2016. Sangat cocok bukan untuk tempat rekreasi yang kekinian? Apalagi ditambah angin sepai-sepoi karena berada di tepian sungai Cisadane. Kalian penasaran? Hayuk ke Tangerang :)

Berjalan di atas Flying Deck rasanya seperti di atas dermaga. Entahlah, karena suasana hati yang memang sedang merindukan alam atau memang suasana Flying Deck yang sangat mendukung. Yang jelas aku semakin jatuh cinta dengan Kota ini, Kota Tangerang yang terkenal dengan istilah seribu industri dan sejuta jasa.

Oh ya, By the way ada sudut di atas Flying Deck yang menurut saya lumayan ciamik untuk pengambilan gambar. Dimana pinggiran Flying Deck diisi dengan pepohonan berwarna hijau, yang menggambarkan seolah sedang berada di tengah hutan. Seperti gambar di bawah ini.
Flying Deck
Flying Deck
Tak terasa Flying Deck sudah kami lewati, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan kenikmatan berjalan kaki di tepian Cisadane. Hingga waktu sholat ashar semakin dekat, dan kami putuskan untuk melaksanakan sholat ashar di Masjid Agung Al-Ittihad. Semakin sore semakin ramai pedagang, seperti itulah kondisi jalan di sekitar Pasar Lama yang terkenal dengan keanekaragam makanannya. Jarak yang kami tempuh dalam berjalan kaki kurang lebih 2,2 km terhitung dari Taman Gajah Tunggal hingga Masjid Agung Al-Ittihad.

Perjalanan hari itu menjadi perjalanan yang sangat menarik. Dan satu sih pesan saya, berjalan kaki siang hari saat hari kerja itu lebih berasa kenikmatannya. Cekrak-cekrek mengambil gambar di spot yang ciamik dalam keadaan lengang. Alhamdulillah bisa merasakan kenikmatan di Kota Tangerang.

Saya berharap, tempat-tempat rekreasi di Tangerang semakin bertambah hingga ke Kabupatennya. Dan yang paling penting, masyarakat dapat tetap menjaga tempat rekreasi dengan tidak merusaknya. Jadi, kapan kita keliling bareng? Hehe..

Kini tepian Cisadane semakin hidup dan bersahabat, dan aku akan terus jatuh cinta dibuatnya. Kota Tangerang, di mana aku dilahirkan, di mana aku dibesarkan, di mana berbagai pembelajaran hidup mengingatkanku, dan di mana aku bertemu dengan masa lalu yang menjadikan pembelajaran. Untuk masa yang akan datang, tetaplah berkenalan dengan Kota ini, tetaplah bercengkrama dengan Kota ini, dan tetaplah bersahabat dengan Kota ini.

Sunday, January 14, 2018

Taman Gajah Tunggal yang Instagramable di Tangerang

January 14, 2018 0 Comments
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Sudah lama rasanya tidak merasakan permainan di taman terbuka. Kalau mengingat umur yang hampir seperempat abad ini, terlihat lucu sih bermain permainan di taman terbuka. Hal yang biasanya hanya dilakukan oleh anak kecil. Namun, pemikiran seperti itu tidak berlaku dengan saya. Selagi dapat merasakan "Bermain" di taman terbuka, maka akan saya rasakan dan nikmati. 

Melupakan semua pemikiran sejenak, melepas tawa saat bermain, dan terbawa akan keasyikan permainan. Ada kalanya saat seperti itu saya rindukan saat beranjak dewasa.

Nyatanya saat saya dan kakak bermain di Taman Gajah Tunggal kemarin hari Kamis tanggal 11 Januari 2018, ada juga kok mahasiswa yang sedang bermain ayunan untuk melepaskan penat dari kegiatan UAS yang sedang dijalaninya. Jadi sah saja kan kalau orang dewasa masih bermain ayunan? Hehe.

Oh iya, by the way kenalan dulu yuk sama Taman Gajah Tunggal. Taman ini beralamat di Jl. Perintis Kemerdekaan I No. 1, Babakan, kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15118. Tepatnya didepan Masjid Jami Al-Amin tepian Sungai Cisadane, Cikokol Tangerang.

Taman Gajah Tunggal merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Kota Tangerang dengan PT. Gajah Tunggal Tbk. Yang diresmikan di Tangerang pertanggal 20 Agustus 2017 lalu, sesuai dengan Visi yang dimiliki oleh PT. Gajah Tunggal Tbk yakni untuk menjadi "Good Corporate Citizen". (Sumber : Tribunnews.com)
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Taman terbuka hijau ini seluas lebih dari 7000m2. Dengan menyediakan berbagai fasilitas yang sangat menunjang sebagai tempat rekreasi keluarga. Mulai dari taman bermain anak yang terdiri dari beberapa permainan yang didominasi terbuat dari ban, lalu ada kantin yang tertata rapih dan bersih, panggung terbuka, musholla, toilet, dan tempat parkir. Oh ya, tentunya Taman yang satu ini sangat instagramable karena desain Taman yang unik didominasi oleh ban.

Dengan fasilitas yang terbilang lengkap. Pastinya, menjadikan Taman Gajah Tunggal sebagai tempat yang sangat recomended untuk rekreasi keluarga, tempat berkumpul komunitas, tempat berolahraga, dan yang tidak ketinggalan adalah tempat untuk mengekspresikan kreativitas seperti halnya fotografi dan videografi.

Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal, Taman Instagramable di Tangerang
Dengan hadirnya Taman Gajah Tunggal ini, menambah deretan taman terbuka yang telah dibangun oleh Pemerintah Kota Tangerang yang semakin menjadikan kota Tangerang sebagai kota yang bersahabat dengan rakyatnya. Saya termasuk salah satu warga Tangerang yang senang mengikuti perkembangan Kota Tangerang. Iyalah, sebagai seorang yang sangat memperhitungkan biaya hidup, seringnya saya rekreasi ke Taman Terbuka yang tidak perlu membayar tiket masuk. Selagi ada yang gratis yuk kunjungi. Hehe.

Untuk taman bermainnya Taman Gajah Tunggal, teridiri dari beberapa permainan yang buatannya didominasi dari ban. Seperti ayunan yang tempat duduknya terbuat dari ban, lalu ada perosotan yang juga terbuat dari ban, dan berbagai permainan lainnya. Seperti di bawah ini.
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Lalu untuk Mushola dan toiletnya bersebalahan dengan area parkir kendaraan bermotor, tepatnya di ujung belakang dari ikon patung gajah. Jadi kalian tidak usah khawatir kesusahan mencari tempat beribadah, karena Taman Gajah Tunggal telah menyediakannya apalagi Taman ini lokasinya bersebrangan dengan Masjid Jami Al-Amin. Rekreasi dapet ibadah pun dapet. Hehe.

Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Untuk kantinnya berada di dekat panggung terbuka, dengan tatanan yang rapih dan bersih tentunya. Seperti gambar di bawah ini.

Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal
Nah, yang menjadikan Taman Gajah Tunggal ini semakin kece yakni panggung terbukanya. Dengan warna abu-abu yang disertai dengan beberapa ban bergambar logo Gajah Tunggal, membuat desain ini terlihat unik. Kalian bisa lihat gambar di bawah ini.
Panggung Terbuka Taman Gajah Tunggal
Panggung Terbuka Taman Gajah Tunggal
Oh ya, kalau ingin berfoto di panggung terbuka Taman Gajah Tunggal sebaiknya saat selain siang hari. Kenapa? Panas banget kalau duduk di panggungnya. Tapi silahkan kalau mau mencobanya. Hehe.

Dan kalau ingin mengambil foto dengan puas, ada baiknya berkunjung pada hari selain weekend ya. Karena dapat dipastikan saat weekend tiba, Taman Gajah Tunggal ramai pengunjung. Nah kalau weekend tempat parkir pun padat kendaraan, sehingga pengunjung ada yang parkir di Masjid Jami Al-Amin.

Bagaimana, Asyik banget kan berkunjung ke Taman Gajah Tunggal? Yuk ajak orang tersayang rekreasi ke sini juga. Dan jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan serta kelestarian tamannya ya.
Taman Gajah Tunggal
Taman Gajah Tunggal

Thursday, January 11, 2018

Siapkan 6 Hal Berikut Sebelum Terjebak Friendzone

January 11, 2018 0 Comments
Selain hubungan dekat dengan lingkungan keluarga, berteman dan bersahabat dengan orang lain juga merupakan hubungan yang memberikan banyak manfaat bagi kita sebagai makhluk sosial. Bersahabat, berarti menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain. 


Dengan bersahabat kita mempunyai tempat untuk berbagi, baik itu berbagi ruang cerita, keluh kesah, dan lainnya. Kita merasa mempunyai orang-orang yang memang perhatian dan dapat mengertikan kita. Sehingga dapat menghindari kita dari tekanan mental atau depresi.


Sahabat dapat diartikan pula sebagai orang yang dapat menerima kita apa adanya, selalu ada untuk kita dalam keadaan apapun, selalu mengajak kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yang senantiasa menasehati kita kalau kita berbuat salah.


Nyatanya, jalinan persahabatan tak selamanya hanya terjalin antara perempuan dengan perempuan ataupun lelaki dengan lelaki saja. Ada juga persahabatan dengan lawan jenis, yakni persahabatan antara lelaki dan perempuan.


Namun, bisa juga hubungan persahabatan berbeda jenis berakhir dengan yang namanya friendzone. Apa itu friendzone? Friendzone adalah sebutan untuk persahabatan lawan jenis, yang salah satu di antara keduanya mempunyai perasaan lebih terhadap sahabat atau teman akrabnya itu sedangkan yang lainnya hanya menganggap sahabat atau teman akrab.

Siapkan 6 Hal Berikut Sebelum Terjebak Frinedzone

Sangat mungkin apabila seorang perempuan dan lelaki bersahabat yang akhirnya terjebak friendzone. Entah itu karena saling memberi perhatian lebih, karena saling bertemu, dan berbagai sebab lainnya. Kalau sudah terjebak friendzone seperti ini, bingung dong ya, mesti menyatakan perasaan atau hanya memendamnya.


Nah, dari pada terlanjur membiarkan persahabatan terjebak Friendzone, yang berpeluang menghancurkan persahabatan. Ada baiknya tetap menjaga persahabatan sedari awal ya sobat. Bagaimana caranya? Simak beberapa langkah berikut.


Menyiapkan Hati

Ga mau dong ya, persahabatan kalian hancur karena perasaan yang tidak semestinya hadir muncul begitu saja. Ada baiknya kalian menyiapkan hati dengan menepis perasaan yang tidak semestinya hadir. Kesiapan hati sangat dibutuhkan dalam persahabatan dengan lawan jenis.


Jangan Terlalu Terbawa Perasaan Alias Baperan

Kalian mesti mempersiapkan hati kalian untuk tidak terlalu terbawa perasaan juga. Saling perhatian sesama sahabat merupakan hal yang wajar dalam hubungan persahabatan.


Selalu Berpikir Bahwa Dia Hanya Menganggapmu Sahabat

Dia sangat perhatian dan selalu ada untuk kamu? Wajar, namanya juga sahabat pasti selalu ada untuk kita bahkan perhatiannya melebihi seorang kekasih.


Relakan Dia Menentukan Pilihan Hatinya

Tentunya, dia mempunyai kehidupan pribadi. Apalagi masalah hati, biarkan dia memilih pilihan hatinya. Rumus bersahabat bukanlah ingin selalu dimengerti, ingin selalu ditemani. Tetapi, tentang bagaimana menjaga persahabatan itu agar tetap terjaga. Hilangkan ego yang menjadikan salah paham dalam persahabatan.


Nyatanya Tidak Hanya Sahabat yang Peduli denganmu, Pastinya Keluarga

Nyatanya, selain sahabat ada keluarga yang peduli denganmu terutama orang tua. Mungkin terlihatnya mereka cuek denganmu, tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam mereka sangat peduli dengan hidupmu. Begitupun sahabat, sama seperti keluarga, kamu bisa menganggap sahabatmu sebagai keluargamu agar tidak terjadi friendzone.


Jangan Bersahabat dengan Dia Kalau Hanya Sebagai Pelarian

Ini sih yang paling engga banget. Bersahabat dengan lawan jenis dikarenakan ingin ada yang perhatian, ingin ada yang peduli, dan yang paling engga banget adalah karena habis putus. Jangan sampai yaa sobat, karena rumus bersahabat bukan sebagai pelarian, tetapi karena memang peduli satu sama lain.


Jadi bagaimana, sudah siapkah untuk bersahabat dengan si dia yang sudah lama menjadi teman mungkin?!


Untuk hati yang sedang menanti sosok yang dirindukan, janganlah bersahabat dengan lawan jenis kalau diri belum siap. Jangan biarkan kecewa menghampiri pada akhirnya. Jangan mengatasnamakan “Sahabat” untuk mengisi hati dengan perasaan yang tidak semestinya ada.


Friday, January 5, 2018

Pesan dari 2017 untuk 2018

January 05, 2018 0 Comments
Sudah hari ke-5 di Tahun 2018. Tahun di mana bulan Mei nanti usia saya tepat 25 Tahun. Sebelumnya saya ingin mengulas balik mengenai tahun 2017 lalu. Tahun di mana saya mendapatkan banyak permbelajaran hidup, setiap langkah demi langkah seolah Tuhan memberikan saya petunjuk. Mungkin kalau dijabarkan di tulisan kali ini, akan membutuhkan banyak kata, kalimat, serta paragraf yang memakan waktu lama. Maka saya akan menyebutkan beberapa hikmah pembelajaran saja.

Tahun 2018

Traveling

Tahun 2017, merupakan tahun di mana saya benar-benar merasakan menjadi seorang traveler. Jatuh terluka saat menyusuri perjalanan, bertemu dengan orang baik, dan menikmati pemandangan yang merupakan kekayaan alam Indonesia. Saya pernah menuliskannya di sini. Sungguh suatu kesempatan yang tidak bisa diukur dengan mata uang. Mungkin Tahun 2017 saya baru menjelajahi daerah Bogor, Jawa Barat yang belum terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Dan harapan saya di Tahun 2018 ini, saya bisa menjelajahi bagian Indonesia yang lainnya.

Untuk setiap perjalanan, tentu harus ada harga yang dibayar entah itu kita harus berusaha terlebih dahulu dengan menabung ataupun dengan mengikuti lomba-lomba yang diadakan oleh pihak tertentu. Tapi yang paling penting adalah keyakinan kita untuk selalu meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kalau kita sudah kehilangan keyakinan itu, kepada siapa kita akan meminta?  Tuhan Maha Kaya, mintalah apa yang kita inginkan pasti Tuhan akan memberinya sesuai kadar diri kita. Sesungguhnya Tuhan lebih mengerti atas diri ini dari pada diri sendiri.

Mengapa ingin traveling lebih jauh lagi? Karena saya ingin menyaksikan langsung betapa indahnya ciptaan Tuhan, ingin bertemu dengan orang-orang yang belum pernah saya temui, mengenal karakter serta budaya yang memang belum saya ketahui.

Passion Baru

Tahun 2017 juga saat saya berhenti bekerja karena tragedi kecelakaan dari motor yang tidak memungkinkan saya untuk bekerja, yang mengharuskan saya menganggur untuk menyembuhkan luka dari kecelakaan itu. Setelah badan saya pulih kembali dan memungkinkan untuk bekerja, saya masih ingin bekerja di Perusahaan, saya tentu berusaha mencari-cari pekerjaan kembali. Tapi, mungkin memang jalannya, mulai Februari 2017 saya menganggur sampai saat saya menulis ini. Dibalik menganggurnya saya, ada passion baru yang saya temukan yaitu menggambar atau melukis secara digital / digital painting. Saya pernah menceritakannya di sini. Bahkan saya juga merasakan mendapatkan penghasilan dari passion baru saya ini. Ya, rezeki memang datangnya dari mana saja dan dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Awalnya saya ragu untuk memasang tarif untuk jasa digital painting yang saya namai @MardhiyArt, karena masih terbilang sangat pemula kalau dibandingkan dengan mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia seni. Atas dasar itu juga saya sebagai pemula tidak mau stuck disitu-situ saja, saya mencari-cari tahu mengenai seni digital, saya terus berlatih, saya terus memberanikan diri untuk mencoba cara terbaru. Hingga akhirnya ada beberapa orang yang menanyakan harga untuk jasa digital painting @MardhiyArt, dan saya memberanikan diri untuk memasang tarif. 

Kalau boleh jujur, dunia seni digital mungkin terlihat materialistis bagi mereka yang belum mencoba. Tapi dibalik itu semua, sungguh bagi mereka yang mengerti akan dapat menghargai. Bukan soal bayaran, tapi soal mengekspresikan warna, mengukir garis, serta memadukan kecocokan gambar, dan juga soal waktu  berapa lama yang telah menemani kita untuk berekspresi. Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil membuat suatu karya seni, sehingga kita tidak mempedulikan lagi berapa nominal rupiah yang kita terima dari karya seni tersebut. "Jangan Melihat dari harganya, tapi lihatlah dari usahanya membuat sebuah karya seni."

Pesan untuk 2018 dalam hal ini, teruslah bersahabat dengan kami para pemula yang ingin terus berlatih dan belajar. Karena tidak ada garis finish untuk belajar kecuali kematian. 

Bisa Mendapatkan Pekerjaan 

Saya tidak tahu sih, jalan saya akan menjadi seorang pekerja kembali atau menjadi seorang yang bekerja sendirian dengan usahanya. Inginnya masih menjadi seorang pekerja di perusahaan karena saya ingin menabung untuk masa depan. Dan alasan utama karena belum bisa menjadi seorang pekerja freelance. Belum bisa benar-benar memenage, memilah waktu, mana waktu untuk bekerja dan mana waktu untuk beristirahat. Apalagi di rumah ada saja kerjaan rumah yang memanggil untuk dikerjakan.

Tapi kalaupun saya menjadi pekerja kembali, saya ingin dipertemukan dengan perusahaan yang memang menyediakan waktu untuk ibadah. Saya ingin diberi pekerjaan yang semakin mendekatkan saya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selagi menganggur saya akan melakukan apa saja yang bisa saya lakukan saat menganggur. Salah satunya ya berkarya, menganggur memberikan banyak waktu untuk bebas berkarya, belajar lebih banyak lagi, serta berlatih lebih giat lagi. Hitung-hitung juga belajar menjadi seorang pekerja freelance.

Bisa Memanfaatkan Waktu

Pasti dong ya, setiap dari kita menginginkan untuk dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Saya pun seperti itu, inginnya di Tahun 2018 ini lebih produktif dibandingkan Tahun 2017. Lebih bisa memanfaatkan waktu, tidak terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk berleha-leha, bersantai-santai, atau dibuang sia-sia.

Lebih mengutamakan meluangkan waktu untuk menghadap Tuhan, untuk berkomunikasi dengan Tuhan, dan untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Lebih mengejar akhirat kelak karena sejatinya tujuan dari hidup yaitu akhirat. Lebih mengejar urusan akhirat dalam melakukan segalanya. "Percaya saja sama Tuhan"

Blog

Bermula di Tahun 2016 saya membuat blog yang belum seberapa ini dengan tujuan untuk melanjutkan hobi menulis saya yang telah ada sejak di bangku SD. Ya, semasa sekolah dulu, saya senang bercerita di buku diary ataupun menulis cerpen di buku tulis yang kemudian saya lihatkan ke teman-teman saya. Apa tanggapan mereka kala itu? "Lucu" itu saja sih :D. 

Niat awal saya membuat blog ini untuk melatih dan mengasah hobi menulis saya, karena kan kalau ditulis di blog kemungkinan ada yang membaca, dari sana mungkin ada yang bisa memberikan kritik ataupun saran untuk tulisan saya. Sehingga saya dapat mengembangkan kemampuan saya. Tujuan selanjutnya agar apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi pembaca. 

Lalu, setelah beberapa bulan blog ini terbuat, saya bergabung dengan salah satu komunitas blogger. Dari sana, saya banyak belajar mengenai blog, dengan rajin blogwalking ke blog sesama anggota komunitas juga yang menambah pengetahuan saya seputar blog. Dan juga tentunya menambah jalinan pertemanan dengan sesama blogger. Dan untuk tampilan blog saat ini juga berkat bantuan dari salah satu teman komunitas blogger yaitu bang Endo Putra yang merupakan founder dari Takaitu.Com website tongkrongan anak muda masa kini.

Inginnya di Tahun 2018 ini, saya bisa posting blog minimal seminggu sekali. Lalu belajar lebih dalam lagi mengenai blog dan kepenulisan agar bisa menyediakan konten yang memang diinginkan pembaca. Mengikuti lomba-lomba blog yang diadakan untuk melatih kemampuan saya dalam bersaing. Lalu yang menjadi harapan banget adalah blog saya bisa TLD agar saya lebih semangat lagi untuk ngeblog.

Antara Seorang Hamba dan Tuhannya

Di tahun 2017, saya juga mendapat makna pembelajaran hidup yang tidak henti-hentinya. Langkah demi langkah Tuhan mengingatkan saya, agar saya lebih dekat denganNya. Yang paling membuat saya sadar adalah, ketika orang-orang menjauh dari saya, di saat seolah tidak ada lagi yang menginginkan saya.  Tapi, Tuhan mendekap saya dan tetap ada untuk saya melalui ketukannya di hati saya. Saya meneteskan air mata saat berkomunikasi denganNya. Batin saya terpenuhi saat itu, saya benar-benar bersyukur Tuhan telah menegur saya dengan cara yang sedemikian rupa.

Karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menjamin akan selalu ada untuk kita selain Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin saat semua menjauh, namun di dalam lubuk hati terdalam masih ada Tuhan yang menemani. Mungkin suasana sepi, tapi di hati selalu ada Tuhan. Mengadulah apa yang hati ingin keluhkan, memintalah apa yang diinginkan, dan berlindunglah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Semoga tahun 2018 ini saya bisa lebih dekat lagi denganNya. Lebih giat lagi beribadah dan menjalani sunnah Nabi Muhammad SAW, serta menjauhi segala laranganNya. Aamiin.

Pedoman Kitab Suci Al-Qur'an

Kalau ada yang perlu disesali, mungkin saya akan menyesali bahwa saya dengan umur menuju 25 Tahun ini belum hafal surah-surah Al-Qur'an. Padahal setiap ayat di dalam Al-Qur'an mengandung kebaikan. Yakali, saya mau mengabaikannya? Enggak!

Harapan saya di Tahun 2018 ini, bisa menghafal surah-surah Al-Qur'an. Surah Al-Kahfi, Al-Waqi'ah, Ar-Rahman, dll. Terutama Juz 30. Aamiin Yaa Allah. Bisa lebih mendalami pesan-pesan dari setiap ayat yang ada di Al-Qur'an. Intinya berpedoman kepada Al-Qur'an. Aamiin.

Masalah Jodoh

Nah ini dia nih kata-kata yang lagi viral di Tahun 2017 lalu dan mungkin akan terbawa sampai tahun 2018 ini yaitu "Jodoh". Ya, masalah jodoh kan urusan Tuhan, itu mah maunya Tuhan aja bagaimana. Yang penting usaha serta do'a saja dulu dibanyakin. Bukankah urusan jodoh sama seperti halnya urusan rezeki dan maut? Berbicara soal "Maut", pasti dong ya setiap dari kita menginginkan meninggal dalam keadaan sedang beriman kepada Allah SWT, sedang merindukan Rasulullah SAW, dan sedang berpedoman kepada kitab suci Al-Qur'an? Yuk sama-sama menjadi pribadi yang semakin mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Untuk jodoh di Tahun 2018, saya kembalikan lagi itu urusan Allah SWT. Dan saya hanya sebagai pemain di dalam skenario yang memang sudah tertulis. Karena saya tidak tahu yang akan menemui saya duluan di Tahun 2018 ini apakah jodoh atau maut. Hanya Tuhan yang mengetahui :)   

"Tuhan, izinkan hamba bersahabat dengan 2018 untuk bersama mengupayakan mimpi-mimpi menjadi kenyataan."

Wednesday, December 27, 2017

Surganya Ciherang dan Pesan Darinya

December 27, 2017 0 Comments
Saat libur panjang seperti ini adalah saat yang tepat untuk berlibur dengan tujuan melepaskan penat dari kegiatan rutin setiap harinya. Biasanya kita berlibur mengunjungi tempat wisata yang berbeda dari tempat tinggal kita. Kalau tinggal di wilayah Jakarta atau Tangerang seperti saya, maka yang dirindukan adalah suasana sejuk dengan hamparan pemandangan yang berwarna hijau. Sedangkan yang tinggal di daerah Bogor atau Bandung misalnya, maka yang diinginkan adalah berlibur ke tempat wisata seperti pantai. 

Saat itu saya masih menjadi karyawan swasta di salah satu pabrik yang memproduksi kopi. Saya bekerja di bagian membuka kemasan yang dinyatakan tidak layak untuk dijual yang tak lain merupakan produk BS. Setiap harinya saya menggunting kemasan tersebut, bungkus demi bungkusnya. Terkadang sesekali saya menjadi packer yang mana mesti menghadapi mesin produksi. Namanya juga bekerja, ya harus dinikmati. Rasa jenuh sesekali menghampiri saya sebagai seorang buruh pabrik, rasanya saat libur tiba ingin merasakan hal yang berbeda dari rutinitas. Hingga pada akhirnya saat libur pun segera tiba, saya bersama teman saya memutuskan untuk berwisata ke Curug Ciherang. Bermodalkan informasi hasil searching dari google mengenai tempat wisata tersebut, saya dan teman saya menguatkan tekad untuk berangkat ke sana. 

Tepatnya bulan Februari 2017 lalu, saya bersama teman berangkat ke Curug Ciherang yang beralamatkan di Sirnajaya, Sukamakmur, Wargajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16830. Untuk kali pertamanya saya ngetrip ke Bogor naik sepeda motor. Berhubung saya tidak bisa mengendarai motor, maka teman saya lah yang akan mengendarai motor selama perjalanan pulang dan pergi. 

Setelah kami melakukan pemilihan hak suara untuk Gubernur Banten (Karena tanggal merah kali ini dalam rangka sedang adanya pemilihan hak suara), kami pun berangkat dengan berkendara sepeda motor. Tidak banyak bekal yang saya bawa dari rumah bahkan baju ganti pun saya tidak bawa. Yang selalu saya bawa saat berpergian adalah air minum botol dari rumah, selebihnya saya pikir cukup beli di jalan saja.

Kami mulai menyusuri jalan dengan bersepeda motor dimulai dari Tangerang tempat kami tinggal, dengan menggunakan jaket, celana levis, serta sepatu bertali untuk menjaga keamanan kaki kami. Setibanya di daerah Serpong, kami mengisi bensin terlebih dahulu untuk bekal perjalanan bersepeda motor. Selang beberapa kilo meter dari tempat pengisian bensin, kami mampir ke toko untuk membeli bekal makanan selama perjalanan dan di tempat lokasi. Tapi kok malah bablas, kebanyakan beli makanannya yang membuat tas kami menjadi semakin berat. 

Setelah itu, kami memasang GPS sebagai peta utama untuk melanjutkan perjalanan. Jujur, kami hanya bermodalkan GPS yang berarti belum tahu benar jalan yang akan kami telusuri. Daerah demi daerah kami lewati, sesekali juga kami bertanya kepada warga sekitar untuk memastikan kebenaran GPS. Cuaca saat itu diluar dugaan kami, gerimis kecil turun saat kami sedang berkendara, namun kami tetap melanjutkan perjalanan. 

Entah kenapa saat ada rumah makan, kami berhenti seolah disuruh makan terlebih dahulu, namun firasat itu kami abaikan dan tetap melanjutkan perjalanan sambil merekam video selama perjalanan. Hingga saat di pertengahan jalan, kami melihat pemandangan hijau yang sangat menyejukkan, dan di sana kami berhenti untuk mengambil foto seperti di bawah ini.
Perjalanan ke Curug Ciherang
Saya Masih memakai celana Levis, simak cerita selanjutnya ya.

Keadaan Jalan Menuju Curug Ciherang

Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan kembali, ternyata jalan menuju Curug Ciherang sangat membutuhkan energi yang lebih. Jalan tidak seluruhnya mulus-mulus saja, masih terdapat jalan yang berlubang dan berbatuan dan jalan yang berlika-liku menanjak lalu turun, yang mengharuskan kami untuk lebih berhati-hati dalam berkendara apalagi menggunakan sepeda motor. Ditambah lagi cuaca saat itu sedang mendung dan hujan yang membuat jalanan menjadi licin. Suasana di jalan tampak sepi, entah karena sedang hujan atau memang daerah menuju Curug Ciherang sepi penduduk.

Kejadian diluar dugaan terjadi pada kami di tengah perjalanan, kami terjatuh dari motor ke arah kanan motor saat melewati jalan menanjak dan berbelok yang terdapat berbatuan. Kami shock saat itu. Ada seorang ibu dan anaknya yang melintas di jalan itu melihat kami terjatuh, lalu membantu kami untuk bangun. Dengkul sebelah kanan saya terluka lumayan besar, dan jari tangan sebelah kanan saya lecet karena gesekan aspal, namun saya masih bisa menahan rasa sakit itu. Sedangkan teman saya terjadi luka dalam yang mengakibatkan memar pada bagian kaki. Saya dan teman saya down saat ibu yang menolong kami menyuruh untuk pulang saja, karena lumayan jauh untuk melanjutkan perjalanan ke Curug Ciherang mesti melewati beberapa desa lagi. Saat itu saya dan teman saya hanya bisa diam dan ibu yang menolong kami pergi meninggalkan kami. Saya kesakitan memegang lutut yang terluka, hingga pada akhirnya ada seorang Ibu dan Bapak bersepeda motor yang sedang melintasi kami dan terketuk hatinya untuk berhenti dan menghampiri kami. Ibu itu bertanya "Kenapa neng?" kami menjawab "Habis jatuh buk" Ibu itu terkejut melihat luka di lutut saya, dan menyuruh kami untuk mengobati luka di warung makan dekat tempat kami terjatuh. Sesampainya di warung makan, ibu itu meminta air hangat untuk membersihkan luka saya dan teman saya. Setelah luka saya dibersihkan oleh Ibu, sang Bapak memberi kapas beserta betadine ke lutut kanan saya. Tidak hanya itu, seusainya kami diobati oleh ibu dan Pak Tatang yang merupakan nama sang Bapak, mereka membelikan kami makanan dan teh hangat di warung makan itu. 

Kita tidak pernah tahu, dibalik musibah yang menimpa kita maka akan dipertemukannya kita dengan orang sebaik Ibu dan Pak Tatang. Salah satu yang saya dapatkan saat di perjalanan yaitu, masih adanya orang yang perduli dengan dua orang anak muda yang belum mereka kenal sama sekali. Dan itu sangat mengetuk mata hati saya dan teman saya, antara terharu dan masih belum percaya. Ya, beruntungnya saya tinggal di Indonesia dengan pancasilanya. Ternyata, sebelumnya Pak Tatang sudah pernah ke Curug Ciherang. Ia menceritakan bagaimana keadaan serta suasana di sana kepada kami. Ia juga membebaskan kami ingin pulang atau melanjutkan perjalanan saja, dan menyarankan untuk ke puskesmas terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. 

Seusainya makan, kami pun berniat untuk melanjutkan perjalanan kembali untuk ke Ciherang. Sebelum kami berpisah dengan Ibu dan Pak Tatang, kami mengucapkan banyak terimakasih untuk kepeduliannya. Dan Ibu berkata "Iya sama-sama, kita ga tau kan kalau kita bertemu kembali dalam keadaan yang bagaimana. Siapa tau ibu nanti yang main ke daerah kalian.". Benar sekali apa yang Ibu katakan. Berbuat baiklah kepada siapapun, kita tidak pernah tahu perbuatan baik mana yang akan mengantarkan kita kepada keberuntungan. 

Logistik Yang Mesti Dibawa

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali dengan kadar hati-hati yang lebih dari sebelumnya. Setelah beberapa kilo meter berkendara, kami menemui pasar dan berhenti di pasar tersebut untuk membeli perban, betadine, revanole, kapas, dan gunting untuk luka di lutut kanan saya. Menyusuri pasar dengan celana bolong di bagian lutut sebelah kanan membuat setiap mata menatap saya dengan heran dan bertanya-tanya, "Neng habis jatuh?" dan saya hanya menjawab "Iya". Setelah perlengkapan P3K tersebut di tangan saya, kami berhenti di salah satu toko celana untuk membeli training yang akan saya pakai sekalian melingkarkan perban pada lutut kanan saya. 

Dari kejadian ini, saya sadar bahwa kita tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita saat traveling. Akan lebih baik membawa perlengkapan P3K seperti perban, betadine, revavole, kapas, gunting kecil. Untuk menjaga-jaga jika terjadi cedera pada bagian tubuh kita. Oh ya, jangan lupa juga untuk selalu membawa jas hujan. Dan waterproof HP, ga mau kan sepulangnya traveling HP jadi rusak karena terkena air hujan?.

Perban sudah melingkar, celana sudah terganti dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Desa demi desanya kami lewati dengan penuh kehati-hatian dan mengucap rasa syukur karena dapat melihat keindahan ciptaan Tuhan. Kira-kira dua kilo meter sebelum tiba di pintu masuk Curug Ciherang, kami melewati jalanan yang sangat menanjak dan berbatu, motor yang kami kendarai tidak mampu untuk menanjak setinggi jalan itu. Dan saya akhirnya turun dan mendorong motor bersama seorang anak kecil yang menerima bayaran untuk membantu mendorong motor kami. Jalan itu pun berhasil kami lewati dan tentunya karena bantuan anak kecil yang kira-kira berusia sembilan tahunan itu. Hingga akhirnya kami tiba di depan pintu masuk Curug Ciherang, sungguh rasa syukur tiada hentinya bergumam di dalam hati. Rasa sakit karena jatuh sudah tidak terasa.

Lokasi Curug Ciherang

Curug Ciherang

Lokasi loket pembayaran tiket masuk kurang lebih 300M dari plang yang bertuliskan lokasi wisata seperti di atas. Sebelum kami tiba di loket pembayaran, pemandangan indah sudah dapat kami lihat dari ketinggian Ciherang. Beberapa wisatawan mengambil foto terlebih dahulu di sana, termasuk saya yang berfoto seperti gambar di bawah ini.
Curug Ciherang
Setelah jatuh, sudah ganti training
Bagaimana? Indahkan?! Setelah puas mengambil foto, kami pun melanjutkan perjalanan kembali untuk benar-benar sampai di Curug Ciherang. Selanjutnya kami membayar tiket masuk untuk dua orang plus parkir motor yaitu 35ribu. Setelah tiket ditangan kami, kami mencari-cari tempat parkir motor. Lumayan jauh jarak antara parkir motor dengan loket penjualan tiket masuk, sebelumnya kami diperlihatkan tempat penginapan jika ingin menginap di sana, bentuk villanya cukup unik seperti rumah teletubbies. Setelah melewati villa tersebut kami dihadapkan dengan jalan yang berbatu sehingga mesti ekstra hati-hati dan memerlukan energi lebih dalam berkendara. Seperti pada sebagian video di bawah ini.
Setelah melewati kurang lebih satu kilo meter jalan berbatuan, akhirnya kami sampai di tempat parkir motor. Terdapat beberapa petugas yang akan mengarahkan kami untuk membantu memparkir sepeda motor. Setelah motor diparkir, kami menapaki jalan yang licin karena air hujan dengan sangat hati-hati. Rasa sakit pada lutut sebelah kanan sesekali menjerit untuk diistirahatkan, namun hati berkata ingin terus menikmati perjalanan ini. Lumayan jauh jarak antara tempat parkir dengan curug ciherang, dan sebelumnya kami melewati beberapa warung kopi terlebih dahulu. Lalu kami mesti menaiki anak-anak tangga yang terbuat dari berbatuan yang memang sengaja dibuat oleh pengelola wisata setempat untuk kenyamanan pengunjung. 

Rumah Pohon Ciherang

Setelah beberapa meter menaiki anak tangga, kami disuguhkan rumah pohon Ciherang terlebih dahulu sebelum sampai di curugnya. Rumah pohon ini juga yang menjadi daya tarik pengunjung untuk mengunjungi Ciherang. Dengan jembatan berwarna coklat yang terbuat dari kayu untuk menghubungkan rumah pohon, dan pohonnya yang tinggi serta sangat rindang membuat rumah pohon Ciherang ini terlihat instgramable dan sayang untuk dilewatkan. Untuk dapat merasakan sensasi di atas rumah pohon ini, kalian cukup membayar 2ribu perorangnya untuk waktu 15 menit. Dengan harga segitu kalian sudah dapat berfoto sepuasnya dan menikmati pemandangan sekitar Ciherang karena keberadaan rumah pohon Ciherang ini yang terbilang tinggi. Oh ya, jika kalian datang berdua dan bingung ingin foto berdua dengan kamera belakang, tenang saja karena ada petugas rumah pohon yang bersedia membantu mengambil foto kalian berdua. Setelah melewati jembatan, kalian akan menaiki anak tangga terlebih dahulu untuk dapat berada benar-benar di atas rumah pohon Ciherang ini.
Rumah Pohon Curug Ciherang
Keadaan Jembatan Rumah Pohon Ciherang. Hasil foto petugas rumah pohon Ciherang

Rumah Pohon Ciherang
Saat di Atas Rumah Pohon Ciherang
Keadaan Jalan dari Rumah Pohon Menuju Curug Ciherang

Setelah puas berfoto-foto dan menikmati pemandangan di atas curug ciherang, apa tujuan selanjutnya? Ya, Curug Ciherang. Sebenarnya kami ragu untuk melanjutkan perjalanan menuju curugnya, melihat kondisi kami yang seperti ini. Tapi sayang dong ya, kalau sudah jauh-jauh ke Ciherang tapi tidak merasakan dinginnya air terjun Ciherang. Itulah alasan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Curug Ciherang, dengan cuaca yang saat itu sedang hujan. Sudah terlanjur basah, untuk apa takut basah, hajar terus bray. Kami hujan-hujanan menapaki anak-anak tangga berbatuan yang licin dan berlumut. Ada penjual jas hujan selang beberapa meter dari rumah pohon, dan kami memutuskan untuk membeli jas hujan itu dengan harga 15ribu. Lalu ada juga penjual waterproof  untuk HP, tapi dengan sombongnya saya berpikir bahwa tidak usah memakai waterproof, HP saya kan bukan HP mahal jadi pasti tidak rusak jika terkena air hujan. Setelah jas hujan kami pakai, kami melanjutkan perjalanan kembali untuk sampai di Curug Ciherang. Setelah anak-anak tangga kami lewati, selanjutnya jalan bertanah liat yang kami lewati, beruntung tidak lengket tanahnya di sepatu saya, sehingga saya bisa berhati-hati dengan lebih mudah menyusuri jalan. Setelah melewati beberapa meter, terlihatlah air terjunnya yang sangat deras. Untuk dapat sampai ke curug, kami mesti melewati batu-batu kali besar yang berlumut.
 
Curug Ciherang
Keadaan Jalan dari Rumah Pohon Menuju Curug Ciherang


Curug Ciherang

Akhirnya kami sampai di Curug Ciherang,  derasnya air terjun Curug Ciherang karena cuaca sedang hujan, serta suasana hutan dengan pepohonan yang sangat rimbun, ditambah batu-batu kali alami yang berlumut, semakin menjadikan saya terkagum-kagum oleh ciptaan Tuhan. Suara turunnya hujan bersamaan dengan air terjun, membuat kami betah menikmati damainya Curug Ciherang, enggan untuk beranjak. Pastinya, kami sambil mengambil beberapa foto di air terjun Ciherang untuk mengabadikan momen terindah ini. Mengingat licinnya batu-batu kali yang berlumut dan terkena air hujan, kami senantiasa menjaga kehati-hatian saat melangkah. Senang boleh, tapi harus selalu hati-hati dan memperhatikan keadaan sekitar serta menjaga etika ya.
Curug Ciherang
Derasnya air terjun curug ciherang
Curug Ciherang
Senangnya hati menikmati Curug Ciherang
Curug Ciherang
Menapaki berbatuan kali

Ada yang kurang kalau belum menyentuh dinginnya air terjun ciherang, akhirnya setelah puas berfoto-foto kami pun mencuci tangan beserta muka dengan air terjun ciherang. Bagaimana rasanya? Wah sudah pasti adem banget, ada sensasi tersendiri saat mencuci muka. Pokoknya kalian harus merasakan langsung ya. 

Sungguh seperti surga dunia berada di Curug Ciherang dengan cuaca yang sedang hujan dan tidak seramai hari libur. Kami sangat dapat menikmati keindahan Curug Ciherang, merasakan asrinya Ciherang, damainya keindahan Alam Indonesia melalui Ciherang. Sungguh saya bangga menjadi warga negara Indonesia dengan segala keindahan alamnya.  

Nikmatilah keindahan alam Indonesia bagaikan surga dengan tak lupa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan seluruh alam semesta dengan segala keindahannya. Bersyukur juga berarti tetap menjaga kelestariannya.

"Setiap tempat maupun perjalanan di kehidupan ini mempunyai pesan dan kesan dari Tuhan Yang Maha Esa"