Follow Me @rodhimardhiyah

Senin, 11 Desember 2017

Berhenti Kuliah

Desember 11, 2017 0 Comments
Berhenti Kuliah

Kuliah, salah satu jalan untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siapa sih yang tidak ingin berkuliah? Semua pasti ingin, namun karena beberapa hal yang membuat diri menjadi mundur untuk dapat melanjutkan bangku perkuliahan.

Saya termasuk pribadi yang sangat peduli akan pendidikan. Dari SMK saya sudah mempunyai keinginan untuk berkuliah, berangan-angan ingin kuliah di STAN yang memang sesuai dengan jurusan saat SMK yaitu Akuntansi. Tapi saya berpikir kembali saat itu, rasanya mendingan saya bekerja terlebih dahulu dan lebih baik bekerja untuk berkuliah atau istilahnya kerja sambil kuliah.

Setelah beberapa kali pindah tempat kerja, dan menurut saya tabungan sudah cukup untuk mendaftar kuliah. Akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar kuliah pada salah satu Sekolah Tinggi swasta yang beralamatkan di Cimone Tangerang. Langsung mendaftarkan diri tanpa mencari referensi terlebih dahulu? Tidak! Tentu, sebelumnya saya sudah mencari-cari tahu referensi untuk tempat perkuliahan, dan saya merasa cocok dengan jurusan yang ada di Sekolah Tinggi tersebut terutama mengenai biaya pendidikannya. Oh ya, termasuk mengenai angkutan umum, cukup sekali naik angkutan umum kalau dari rumah saya menuju kampus dengan rute Kutabumi-Cimone.   

Sebelumnya saya sudah pernah bercerita mengenai bangku perkuliahan saya di sini. Semester demi semesternya saya jalani, mencoba tetap bertahan untuk dapat berkuliah sampai lulus. Pada akhirnya saya temui titik dimana saya benar-benar merasa lebih baik saya mundur untuk saat ini. Menyerah? Entahlah ini termasuk menyerah atau mengalah pada keadaan, saat di mana saya harus melepaskan apa yang sejak dulu saya inginkan untuk dicapai. Rencana-rencana yang menjadi tidak sesuai dengan aktual, mimpi yang nyaris tidak ingin untuk dimimpikan, keyakinan yang mungkin akan lenyap saat itu. Teeet #Lebay.

Awalnya saya berniat untuk mengambil cuti terlebih dahulu, tidak memutuskan untuk langsung berhenti berkuliah. Rencana saya mengambil cuti kuliah selama satu tahun, saat itu saya ingin fokus untuk bekerja dan menabung untuk biaya perkuliahan selanjutnya. Banyak dari mereka yang menyarankan untuk tidak mengambil cuti, salah satunya teman saya yang berkata "Kak jangan cuti, nanti jadi malas kuliahnya." atau "Jangan cuti, nanti malah lupa kuliah." dan saran-saran lainnya. Namun keras kepala saya tetap memutuskan untuk mengambil cuti, karena yakin saya tidak mungkin berhenti kuliah begitu saja ditambah kondisi saat itu yang berkata lebih baik saya mengambil cuti perkuliahan. Hingga saat itu pun dimulai, saat saya memutuskan cuti kuliah dan fokus bekerja. Tidak ada lagi tugas-tugas kuliah, tidak ada lagi saat saya mengejar-ngejar jam kuliah, ataupun kegalauan memilih untuk bekerja atau berkuliah. Saya berpikir bahwa kondisi seperti ini hanya satu tahun, selama satu tahun juga saya mesti menabung untuk biaya kuliah.

Namun, apa yang saya dapatkan setelah satu tahun itu? Usaha dan do'a saya masih kurang, sehingga saya memutuskan untuk berhenti berkuliah. Saya menganggur, tidak bekerja dan berkuliah. Saya berpikir mungkin Tuhan berkata lain. Entahlah, saat itu saya sangat galau kalau keinget kuliah ataupun melihat kampus. Dari luar terlihat dapat menerima semuanya, tapi saya belum bisa ikhlas untuk saat itu. Banyak dari mereka yang berkata "Sayang banget uang yang selama ini dikeluarkan untuk kuliah.", "Sayang banget waktu yang terbuang begitu saja kalau tidak lanjut kuliah.", dan entahlah saya lupa komentar apa lagi yang saya dapatkan.

Saya terlalu lemah, tidak mampu melanjutkan jalan untuk menggapai cita-cita. Mungkin seperti itulah tanggapan saya dan mereka saat itu. Tapi, lambat laun saya mulai dapat menerima kenyataan. Saat dimana saya mendengar kata kuliah atau ada yang menanyakan perihal perkuliahan, dengan tenang saya menjawab bahwa saya sudah berhenti kuliah. Lagi-lagi akan menerima jawaban "Sayang banget..". Iya, memang sayang. Tapi, entah kenapa saya sudah biasa saja dengan keputusan saya. "Sayang banget uang yang sudah dihabiskan untuk kuliah.."

Dengan cara seperti ini saya menjadi semakin mengerti apa itu "Ikhlas". Saat saya tidak lagi menghabiskan energi saya untuk menggalaukan berapa nominal rupiah yang sudah saya keluarkan untuk perkuliahan, berapa semester yang telah saya lewati, berapa kesempatan yang saya buang. Saya tetap bersyukur dapat merasakan bangku perkuliahan, mendapatkan ilmu selama tiga semester, mendapatkan teman ataupun kenalan. Saya menganggap uang yang telah saya keluarkan telah sebanding dengan apa yang telah saya dapatkan. Lah tapi kan ga wisuda mar? Wisuda memang tujuan akhir dari kuliah, untuk apa kuliah kalau tidak wisuda dan tidak mendapatkan gelar di belakang nama? Ya memang benar! Tapi, setiap dari kita mempunyai pandangan yang berbeda. Tidak apa-apa belum bisa wisuda yang menjadi tolak ukur banyak orang bahkan menjadi tolak ukur juga dalam hal pekerjaan.

Apa yang telah Tuhan berikan untuk saat ini pasti yang terbaik untuk kita semua. Bersyukur kunci utama untuk bisa ikhlas. Bersyukur diberikan waktu yang luang untuk mengembangkan diri, bersyukur dapat memahami diri sendiri hingga tidak ada waktu untuk mengeluh. Bersyukur dengan segala karunia Tuhan yang telah diberikan untuk kita, masih diberi nikmat sehat, masih diberi waktu luang, masih diberi orang-orang yang sayang sama kita yang selalu mengingatkan kita, dan masih banyak lagi tentunya. Hingga tidak ada waktu untuk mengeluhkan masa lalu.

Sampai-sampai sesuatu yang mungkin menyakitkan untuk kita menjadi senyuman untuk kita. Bisa begitu? Bisa! Saya ada sedikit cerita saat menghadiri job fair sepekan lalu yang di adakan oleh pihak Kabupaten Tangerang. Jadi begini ceritanya, saat sedang mengelilingi stan-stan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, saya berhenti pada salah satu stan untuk membaca keterangan mengenai lowongan pekerjaan tersebut, baru membaca satu kata, penjaga stan langsung memberitahu ke saya bahwa itu untuk lowongan lulusan D3 dan S1. Dengan senyuman manis saya *yailah manis cuy :D* saya pun menjawab "Oh, iya pak :)" dan kembali jalan untuk menghampiri stan yang lainnya. Mungkin kalau saya belum bersyukur, saya akan sakit hati dengan ucapan tersebut. Dan mungkin saya akan bergumam dalam hati "Seandainya, gue masih lanjut kuliah." disertai dengan memasang muka masam seasam belimbing sayur yang masih kecil. Beruntungnya saya, dalam keadaan yang sedang sumpek (karena sangat ramai) masih bisa bersyukur dengan lulusan SMK. Karena saya merasa, saya masih punya Tuhan.

Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk saya, tapi mungkin cara saya memandang yang belum benar sehingga rasa bersyukur menjadi terhalang oleh pandangan yang salah.

Untuk teman-teman yang sedang berjuang dengan skripsinya, selamat dan semangat yaa.. beberapa langkah lagi untuk wisuda :)

Jumat, 24 November 2017

Tentang Mengembangkan Passion

November 24, 2017 0 Comments
Di zaman yang sudah sedigital ini tentu lebih mudah untuk kita dalam hal mengembangkan kemampuan ataupun passion. Mungkin dahulu kita mesti mencari-cari buku ke perpustakaan ataupun toko buku untuk kebutuhan pengetahuan kita. Tapi nyatanya sekarang tradisi itu sudah bergeser, apa yang ingin kita ketahui tinggal ketikkan saja di google maka akan muncul hanya dalam sekejap. Apalagi sekarang ini kebanyakan dari kita sudah menggunakan handphone yang sudah ada layanan internet, tentu sangat memudahkan dalam hal memenuhi kebutuhan pengetahuan. Namun tetap saja, buku lah yang menjadi sumber utama dalam pengetahuan. 

Bukan hanya itu, dalam hal mengembangkan kemampuan ataupun passion kita juga memerlukan suatu grup ataupun komunitas yang juga memiliki passion yang sama dengan kita agar passion kita tidak hanya stuck disitu-situ saja. Agar kita memiliki dorongan untuk dapat mengembangkan kemampuan kita, belajar dengan yang lebih berpengalaman dengan mereka yang ada di grup atau komunitas itu, saling berbagi pengetahuan, terutama untuk menambah jaringan pertemanan antar sesama anggota, dan masih banyak lagi benefit lainnya.

Di zaman digital ini, lagi-lagi memudahkan kita untuk mengetahui grup atau komunitas apa saja yang sudah ada yang sesuai dengan passion kita dan juga tentunya sesuai dengan daerah tempat kita tinggal. Tinggal pilih saja ingin mencari grup atau komunitas di facebook ataupun instagram, maka akan muncul grup atau komunitas yang sedang kita cari. Pastinya setiap grup ataupun komunitas mempunyai rule tersendiri untuk anggotanya, seperti halnya memberikan beberapa persyaratan pendaftaran yang mesti dipenuhi sebelum calon anggota menjadi anggota resmi, lalu mengenai rule setelah menjadi anggota resmi, dan berbagai aturan lainnya. Tentunya bagi mereka yang memang ingin mengembangkan kemampuan dalam passionnya, perihal tersebut bukanlah sesuatu yang memberatkan dan akan mereka usahakan untuk menaatinya. 

Di dalam sebuah grup atau komunitas pasti ada yang baru mengenal passionnya dan ada yang sudah berpengalaman lebih dulu dalam mengembangkan passion yang sama. Seperti saya yang baru mengenal dan mencoba mendalami passion yang ada pada diri saya beberapa bulan ini. Setiap ada waktu luang dan kesempatan saya mencoba untuk melatih passion saya, dan mencoba mencari-cari tahu mengenai informasi seputar passion yang sedang saya geluti. Namun berhubung kuota internet saya melimpahnya saat dini hari yakni jam 00:00 s/d 06:00 pagi, maka saya mencoba bangun tengah malam yang lebih seringnya bangun pada jam 02:00 dini hari untuk googling mengenai passion saya sembari membuka-buka media sosial tentunya, hehe. Providers apa yang saya pakai untuk memenuhi kebutuhan informasi saya? Rahasia! Karena dalam tulisan ini saya tidak sedang sponsor apapun itu. Oh ya, sebelumnya saya juga pernah sharing mengenai passion di sini.

Dalam melatih passion, saya tidak jarang membagikan hasil latihan saya ke grup yang saya ikuti lalu disertai keinginan saya untuk mendapatkan kritik dan saran dari mereka yang sudah berpengalaman lebih dulu dalam bidang passion yang sama. Memang ada yang memerhatikan sampai memberi kritik dan saran dan ada juga yang cuek mungkin faktor kesibukan. Tapi saya jadi berpikir, lah sampai kapan saya melatih kemampuan passion saya didasari atas iming-iming ingin diperhatikan oleh senior? Saya mencoba merubah prinsip saya sesuai nasehat dari senior, tapi saya lupa bagaimana kata-katanya, kurang lebih isinya seperti ini "Terus saja melatih kemampuan, jangan hanya terpatok seberapa banyak yang melihat karyamu, seberapa banyak yang menghargai karyamu dengan like, dan iming-iming lainnya. Terus latih kemampuanmu tak peduli tidak ada yang memerhatikan yang penting teruslah berlatih dan berkarya. Yakinlah dengan usahamu. Dan mintalah ke Tuhan."

Well, sekarang saya melatih kemampuan passion saya atas dasar ingin belajar lebih dari sebelumnya bukan untuk dilihat apalagi dihargai. Ada kepuasan tersendiri saat melatih passion saya, setidaknya saya sudah berusaha dibandingkan hanya berdiam diri dan menggerutukan nasib. Walaupun mungkin ada yang nyinyir soal kemampuan saya, itu hanyalah selingan dalam proses belajar. Iya, ga seru kalau belajar ga ada tantangannya, salah satunya termasuk nyinyiran-nyinyiran itu. 

Menurut saya, mereka yang senior mungkin empet melihat pemula seperti saya yang bisanya hanya disuapkan saja, tidak ada keinginan terlebih dahulu untuk belajar sendiri. Padahal mungkin saat dimana mereka sedang mula-mulanya belajar tidak semudah seperti saat ini. Mereka memerlukan usaha lebih untuk belajar, waktu lebih untuk belajar, serta biaya lebih untuk belajar. Well, kita tidak tahu usaha serta rintangan apa yang telah mereka lewati untuk menjadi mereka yang sekarang. Mungkin ada dari mereka yang berbagi cerita saat proses awal-awal mereka belajar, tapi percayalah itu belum seberapa dari apa yang telah mereka lalui. Kita tidak tahu detail setiap detik mereka!

Mungkin sebagai pemula kita ingin dihargai, ingin diajarkan, ingin dibimbing oleh mereka yang lebih berpengalaman. Tapi, kita juga mesti sadar diri dan menghargai mereka ya :)  

Dan terakhir, jangan terlena dengan mengejar passion hanya untuk urusan dunia. Kejarlah juga akhirat, eh bukan deh. Kejarlah passion untuk urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Maaf, saya sedang proses dalam hal yang satu ini, doakan agar kita semua istiqomah yaa :) Aamiin

Jumat, 10 November 2017

Gita Savitri Devi Sosok Inspirasi Generasi Muda Masa Kini

November 10, 2017 0 Comments
Gita Savitri Devi, namanya yang saat ini sedang familiar mampu menginspirasi kebanyakan generasi muda masa kini, salah satunya menginspirasi saya untuk menulis mengenai dirinya. Pemilik akun instagram @gitasav ini merupakan salah satu mahasiswa semester akhir di Freie Universitat Berlin jurusan kimia murni.
Gita Savitri Devi
Gita Savitri Devi Sosok Inspirasi Generasi Muda Masa Kini

Saya sendiri pertama kali tahu bahwa ada seorang youtuber yang sangat maju dan kritis pemikirannya seperti Gita Savitri Devi, dari videonya bersama kekasihnya yang bernama Paul yang sedang membahas mengenai Jerman dengan judul video "Gimana Jerman mengubah kami" 

Saat saya menonton video di youtube yang berisikan motivasi ataupun inspirasi, saya random menemukan video dari Gita ini yang merupakan sapaan akrabnya. Merasa penasaran dengan wanita kelahiran 27 Juli 1992 ini, sayapun melihat-lihat video di channel youtubenya "Gita Savitri Devi". Dan ternyata, tidak hanya video yang barusan saya tonton yang memberikan konten positif untuk generasi muda saat ini. Gita memang sengaja membuat konten-konten positif yang sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini, seperti konten "Tentang Jerman" yang berisikan bagaimana sebenarnya kehidupan di Jerman sebagai mahasiswa dan bagaimana negara Jerman. Lalu konten "Beropini" yang berisikan opini-opini Gita terhadap kehidupan yang sedang berlangsung saat ini baik itu mengenai media sosial, beragama, bahkan politik. Selain itu, Gita juga mengupload video cover lagu pada channel youtubenya sesuai dengan hobinya sejak kecil.

Tanpa pikir panjang kali lebar saya langsung subscribe channel youtubenya, tidak hanya itu. Saya juga mencari tahu mengenai Gita Savitri Devi Sosok Inspirasi Generasi Muda Masa Kini ini. Dimulai dari ngestalk instagramnya, sampai membaca-baca postingan blognya yang diberi nama "A Cup Of Tea". Benar-benar sosok yang sangat menginspirasi, terlihat dari caranya berbicara dan menulis. Apalagi begitu tahu bahwa Gita juga merupakan seseorang yang berkepribadian INTJ seperti saya. rasanya seperti mempunyai teman diskusi walaupun hanya satu arah, Gita sebagai pembicara dan penulis, saya sebagai pendengar dan pembaca yang mengiyakan dan hanya bisa menulis komentar di postingannya. Ditambah lagi dengan cara berpakaian Gita yang terbilang apa adanya, tidak neko-neko, dan terlihat lebih simple. Saya sangat menyukai  fashion yang seperti itu.  

Tidak hanya upload video di youtube dan menulis di blog dengan konten positif saja, Gita juga telah menulis buku pertamanya yang berjudul "Rentang Kisah" dengan penerbit Gagas Media yang membahas tentang kehidupannya yang dulu super ambisius kini berubah menjadi seseorang yang lebih berpikiran terbuka. Dan itu semua karena Jerman yang mengajarkan Gita untuk bersikap ikhlas terhadap banyak hal dan bagaimana punya banyak waktu berkualitas setiap hari. 

Saya sebagai generasi muda Indonesia, sangat berharap kedepannya semakin banyak sosok-sosok yang menginspirasi seperti Gita Savitri Devi. Karena generasi muda adalah penerus negara ini, sosok yang sedang mencari jati diri, pilihan ingin menjadi seperti apa ke depannya ada pada dirinya. Dan itu semua tergantung apa yang ia lihat, baca, dan tonton juga. Mari kita pilih sosok panutan yang dapat menginspirasi ke arah yang positif. 


Sabtu, 04 November 2017

Keluar dari Passion atau Menemukan Passion Baru?

November 04, 2017 0 Comments
Tentunya setiap dari kita pasti mempunyai hobi, kesenangan, maupun passion tersendiri untuk menghilangkan rasa jenuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan cara melakukannya pun pasti bermacam-macam adanya. Ada yang tertarik di bidang musik, fashion, kepenulisan, menggambar, dan lain sebagainya.

Kalau berbicara soal hobi, maka akan saya isi dengan kata membaca, dan menulis. Kalau berbicara mengenai kesenangan, saya sewaktu-waktu akan menjawab bernyanyi, menulis, memotret, dan traveling. Dan terakhir adalah mengenai passion, mungkin lebih tepatnya suatu kegiatan yang jika saya lakukan berulang-ulang tidak ada kata bosan, dan ada ketertarikan tersendiri sewaktu mengerjakannya serta melakukannya dengan hati, yaitu menulis. Saya merasa sangat terapresiasi saat ada orang yang menilai tulisan saya, entah itu berupa kritik maupun saran. Saya selalu ingin memperbaiki kemampuan saya yang satu ini yang memang belum seberapa.

Mungkin secara keseluruhan, sejak dahulu saya tertarik dengan dunia kepenulisan dan sesuatu yang berhubungan dengan logika seperti halnya matematika. Selalu ingin mempelajarinya dan berlatih melaksanakannya kapanpun saya mau dan bersedia. 

"Menggambar", entah kenapa sewaktu duduk di bangku sekolah, saya kurang tertarik, dengan hal yang satu ini. Karena saya beranggapan bahwa tidak ada bakat di bidang menggambar, melukis, dan teman-temannya. Namun seminggu terakhir, lebih tepatnya pada hari Minggu tertanggal 29 Oktober 2017 kemarin. Setelah saya mengetahui suatu aplikasi android untuk menggambar yaitu "Sketchbook", yang saya tahu dari kakak saya dan juga @adk.art (nama akun instagram) yang merupakan seseorang yang memang sudah profesional di bidang tersebut.

Entah mengapa, saya penasaran dan tertarik untuk mencobanya. Dimulai dengan mendownload aplikasi tersebut di layanan andorid yaitu play store. Seperti pada gambar di bawah ini.
Aplikasi Sketchbook
App Sketchbook

Lalu, saya masukkan foto yang ingin saya gambar. Dan dilanjutkan dengan memainkan jari-jari saya untuk membentuk gambar tersebut, diikuti dengan imajinasi saya serta mengajak hati saya untuk ikut bermain di dalamnya. Sesuatu yang baru dalam kehidupan saya, yang bahkan sebelumnya tidak saya minati. 

Di bawah ini merupakan gambar dari hasil latihan saya, yang memang masih sangat pemula, belum mengerti apa-apa mengenai sketch, art, ataupun painting. Mungkin bagi kalian yang sudah sedikit banyak mengerti mengenai dunia seni, bisa sharing di kolom komentar :)
Aplikasi Sketchbook


Aplikasi Sketchbook

Aplikasi Sketchbook

Aplikasi Sketchbook

Aplikasi Sketchbook

Yang saya rasakan seminggu belakangan ini, ada challenge tersendiri untuk kemampuan saya. Melakukan sesuatu serta mencoba mendalaminya dan berlatih di luar passion saya. Dan itu sangat berbeda rasanya saat saya sedang melatih passion saya. Sungguh melakukan sesuatu perbedaan itu sangatlah asyik dan menantang. Seperti halnya, menuntaskan suatu pekerjaan yang memang sudah menjadi kegiatan kita dengan menuntaskan pekerjaan baru yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya. Sangat berbeda! Dan benar, perbedaan itu memberikan warna tersendiri bagi pelakunya. 

Dan saya masih ingin terus mempelajari akan perbedaan itu, yang memang bahwa saya masih sangat pemula dalam dunia ini. Sejatinya, kehidupan ini memberikan perubahan pada setiap zamannya. Akan menjadi pilihan kita untuk menentukan ingin bagaimana ke depannya, akankah kita monoton dengan zona nyaman serta aman kita atau kita akan membuka diri untuk hal baru yang akan terjadi pada diri kita. 

Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang kelak akan terjadi pada diri saya. Ada kemungkinan A sampai Z, jika saya mencoba mempelajari kemungkinan-kemungkinan itu semua maka peluang akan terbuka. Dan yang pasti Tuhan yang paling mengetahui yang terbaik untuk saya di masa yang akan datang. Maka saya yang hanya sebagai pemain dalam kehidupan ini, tidak patut untuk menuntut inginnya begini saja ataupun begitu saja. Lakukan yang bisa saya lakukan, pelajari apa yang bisa saya pelajari, selebihnya serahkan kepada Tuhan. Biarkan takdir Tuhan yang menentukan. 

Dan menurut kalian, apakah yang saya lakukan seminggu terakhir ini merupakan "Keluar dari Passion" atau "Telah menemukan Passion baru"?. Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya :) Terimakasih sudah mau membaca tulisan absurd saya kali ini, mungkin ada yang berpikiran bahwa saya terlalu lebay menanggapi yang terjadi dalam kehidupan ini. No problem :) Saya hanya ingin sharing sedikit lebih tepatnya.

Salam Ukhuwah dari saya Rodhiyatum Mardhiyah yang ingin belajar lebih banyak lagi mengenai arti kehidupan.


Jumat, 20 Oktober 2017

Bertindak Adil

Oktober 20, 2017 0 Comments
Maunya sih begini dan begitu, tapi apakah kita pernah mencoba untuk lebih bertindak adil pada diri sendiri?!
Bertindak Adil
rodhiyatummardhiyah.blogspot.com

Seperti itulah dominannya sikap kita, egoisnya sering muncul tanpa berpikir sebelumnya. Dimulai dengan seringnya kita merasa paling benar dalam menilai orang lain, kita dengan seenaknya menilai kehidupan orang lain tanpa mengetahui apa yang ada dibalik orang itu. Seringnya, kita beranggapan "kok dia begitu sih?!" Padahal kita juga tidak tahu apa yang ada pada dirinya, perjuangan apa yang sedang dilakukannya, luka apa yang sedang menghinggapinya, beban apa yang sedang dipikulnya. Dan itu semua hanya dirinya serta Tuhan yang mengetahui.

Memang sejatinya, kehidupan kita pasti akan ada saja orang yang menilainya walaupun sejatinya hanya penilaian Tuhan yang benar. Dan kita tidak bisa menolak penilaian orang lain terhadap diri kita. Idealnya kita ingin dinilai oleh orang lain sesuai keadaan kita, apa yang kita rasakan, bagaimana kita, dan penilaian lainnya. Tapi, apakah kita sering memberi penilaian yang baik untuk orang lain?! Coba kita pikir kembali, apakah itu tindakan yang adil? Inginnya dinilai sesuai tetapi ke orang lain malah tidak bisa memahami

Lalu masalah kekurangan ataupun kejelekan. Sebelumnya saya sudah beropini di status facebook ataupun caption instagram saya mengenai hal yang satu ini. Setiap dari kita pasti mempunyai kejelekan pun kekurangan, jika kita tidak bisa memaklumi kekurangan ataupun kejelekan yang ada pada diri orang lain, bagaimana bisa kita menjadi pribadi yang lebih mengerti?! Bertindak adil itu penting. Dalam hal ini, yaitu jika kita bisa menerima kekurangan yang ada pada diri kenapa kita tidak bisa memaklumi kekurangan yang ada pada orang lain?! Mencoba lebih memahami yang lainnya, tidak melulu kita yang dipahami namun bertindak adil dengan yang lainnya. 

Lalu masalah kepemerintahan. Sering kali kita inginnya mempunyai fasilitas yang memadai, lapangan pekerjaan yang sesuai dengan angka pengangguran, dan macam-macam keinginan lainnya sebagai seorang rakyat kepada pemerintah. Jika ada yang kurang ataupun cacat menurut kita sebagai rakyat, kita lantas menyalahkan pemerintah tanpa ikut membantu memperbaikinya minimal dengan memberikan masukan. Apakah itu adil?! Mari, kita bertindak adil juga dalam hal ini. Jika kita rasa ada yang kurang, jangan bisanya hanya menggerutu, mengeluh, menyalahkan. Kaji kembali apa yang bisa kita lakukan untuk minimal membantu perbuatan kecil. Tapi jika kita sama-sama melakukan perbuatan kecil itu, bisa berdampak besar tentunya. Contohnya, kita mengeluhkan masalah banjir setiap tahunnya, apakah kita sudah membuang sampah pada tempatnya?.

Lalu masalah angka pengangguran yang meningkat setiap tahunnya yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan. Seringnya kita sebagai seorang yang menganggur menyalahkan pemerintah ataupun perusahaan atas kebijakan yang telah dibuat, entah itu persyaratan melamar kerja yang semakin sulit, entah itu adanya pengurangan karyawan, dan lain sebagainya. Lalu, apakah lantas kita hanya berdiam diri dengan keadaan yang ada? Mencari lowongan kerja dengan melamar kesana kemaripun rasanya tidak cukup. Kita perlu meningkatkan kemampuan kita, kita perlu melatih kreatifitas kita untuk menghadapi kondisi seperti ini. Atau mungkin kita perlu belajar untuk berwirausaha. Pemerintah sudah berusaha memperbaiki kondisi yang ada, tapi kita hanya bisa menyalahkan tanpa ikut membantu minimal perihal kecil. Apakah itu adil?!

Lalu masalah menyudutkan anak-anak zaman sekarang atau bahasa gaul yang lagi viral sekarang yaitu "Kids Jaman Now". Kita sebagai orang yang sudah melalui masa anak-anak lebih dahulu, seringnya menilai "kok anak jaman sekarang begini sih?", "Lah seruan permainan kita waktu masih kecil dulu, anak jaman sekarang mah mainannya ga ada yang kaya dulu.", dan lain-lain anggapan lainnya. Jelas, perubahan zaman pasti berlaku setiap masanya. Sekarang zaman sudah sangat canggih, wajar saja jika anak zaman sekarang sudah mengerti smartphone ataupun komputer. Asalkan kita sebagai orang tua mengarahkan ke arah yang positif saat anak sedang berselancar dengan gawainya. Itu semua tergantung didikan dan tontonan yang disuguhkan. Jangan melulu anak yang disalahkan. Saat Smartphone yang kita belikan rusak, lantas kita menyalahkan sang anak. Tapi, apakah saat anak kita rusak, kita menyalahkan smartphone?! Seringnya kita malah tambah menyalahkan sang anak, bukan smartphone atau cara mendidik kita yang kita koreksi.

Mari kita belajar bersama-sama untuk dapat bertindak adil, walaupun yang dapat berlaku adil seadil-adilnya hanyalah Tuhan.  

Salam Ukhuwah dari saya Rodhiyatum Mardhiyah

Senin, 09 Oktober 2017

Jomblo Part II

Oktober 09, 2017 0 Comments
rodhiyatummardhiyah.blogspot.com

Sebelumnya saya sudah menuliskan artikel mengenai “Jomblo”, mungkin bagi yang belum membaca, bisa baca di sini. Kali ini saya akan membahas mengenai jomblo kembali. Karena sampai saat ini pun saya masih bertahan dengan status jomblo, pastinya tujuan saya menulis kali ini yaitu untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran saya sebagai seorang jomblo.

Entah status saya sebagai seorang jomblo ini, termasuk ke dalam kategori “Mencari Aman” atau memang belum dipertemukan dengan jodoh. Jujur, pilihan saya untuk menjomblo memang berdasarkan prinsip saya yang tidak ingin untuk berpacaran sebelum menikah. Ya, walaupun sebenarnya dulu saya pernah mempunyai mantan.

Tentunya saat saya berpegang pada prinsip tidak ingin berpacaran, saya juga meniatkan diri untuk menjaga hati ini agar tidak terlalu dalam saat kagum atau menyukai lawan jenis. Tidak hanya status yang dijaga namun hatipun demikian. Sulit?! Tentu, saat awal-awal saya berhijrah merasa kesulitan untuk merombak hati ini. Namun adalah benar bahwa Tuhan akan mempermudah jalan hambaNya, jika hambaNya memang memiliki keinginan untuk berhijrah. Saya ingin agar hati ini selalu terpaut hanya kepada Tuhan yang memiliki hati ini, tidak ada harapan selain kepada Tuhan. Karena sejatinya, berharap kepada selain Tuhan maka hati akan kecewa dan terluka. Dan itu benar!

Hari demi harinya saya selalu mencoba untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan. Kadang, perilaku manusiawi memang sering hadir, seperti halnya teringat kenangan yang lalu, rasa kecewa, dan macam-macam perasaan lainnya. Tapi saya berusaha untuk menepis perasaan itu dengan mencari-cari motivasi yang berasal dari luar diri saya, seperti halnya dari akun-akun instagram yang memotivasi ataupun dari artikel yang mampir di timeline facebook saya. Tapi tetap saja kekuatan yang sesungguhnya berada di dalam diri sendiri, motivasi yang berasal dari luar hanyalah sebagai pendukung.

Mungkin kata "Mencari Aman" juga yang mendominasi saya untuk menjomblo. Tidak ingin salah melangkah untuk yang ke sekian kalinya, tidak ingin jatuh hati kepada orang yang salah, tidak ingin menghabiskan waktu hanya karena urusan yang semestinya tidak ada. Well, saya berpendapat jika memang waktunya belum tiba, untuk apa menghabiskan waktu dengan mencintai orang yang salah?! Lebih baik saya melakukan hal yang memang menjadi tujuan hidup saya, mengembangkan minat saya, dan yang terutama lebih fokus kepada orang-orang yang menyayangi saya. 

Saya sama seperti kalian yang menjomblo. Tidak jarang ada yang melontarkan pertanyaan kepada saya perihal someone, dan saya cuma bisa nyengir dan membalas dengan kata "Do'akan saja". Saya merasa belum siap dengan perihal menjalin hubungan sakral dengan seseorang, dan perlu beberapa tahun lagi untuk mempersiapkan kematangan itu. Saya merasa masih mempunyai hutang atas cita-cita saya, tidak mungkin saya bisa melupakan cita-cita saya begitu saja. Tapi balik lagi, saya hanya hambaNya yang hanya dapat berencana dan menjadi pemain dalam kehidupan ini. Tuhan Yang Maha Kuasa yang mempunyai kuasa atas kehidupan ini, dan saya hanya berusaha menjalankan semua ini sesuai skenarioNya. 

Jika nanti seseorang itu telah tiba sebelum waktu menurut saya yang tepat, mungkin Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah atas jalan itu. Atau mungkin seseorang itu datang dengan waktu yang lebih lama dari yang saya inginkan, mungkin itulah cara Tuhan menyadarkan saya bahwa ada sesuatu yang harus saya perbaiki. Well, kehidupan ini punya Tuhan Yang Maha Esa, kita sebagai hambaNya hanya pemain dalam kehidupan ini. 

Jadi bagaimana, masih betah jomblo?! :D 

Salam Ukhuwah : Rodhiyatum Mardhiyah

Kamis, 05 Oktober 2017

Mantan!

Oktober 05, 2017 0 Comments

Mantan
Masih ingat mantan?! :D

“Mantan”, kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna bekas pemangku jabatan (Kedudukan). Lalu menurut teman-teman bagaimana? Pasti setiap kita mempunyai makna tersendiri untuk kata “mantan” ini. Yuk sebelumnya sharing dulu di kolom komentar mengenai makna dari kata “mantan” hehe.

Mantan yang saya maksud di sini bukan mantan presiden, mantan gubernur, mantan camat, mantan walikota, dan mantan-mantan lainya. Tetapi mantan yang pernah ada di hati, yang pernah mampir di hati, apapun itu namanya. Intinya mah pernah ada kenangan dengan si “mantan” ini. Tapi tunggu dulu, sebelum melanjutkan untuk membaca tulisan absurd ini, pastikan terlebih dulu bahwa kalian sedang dalam hati yang tenang dan tidak malah menjadi galau akibat teringat kenangan bersama si “mantan”.

Mar, hidup kok malah jadi flashback sih, ngebahas yang sudah berlalu?!. Ya memang benar, yang berlalu biarlah berlalu. Tapi ingat, kita mesti mengambil pelajaran dari yang sudah lalu! Jangan malah keinget akan saat-saat manis bersamanya saja.

Terkadang ada kenangan yang mampir begitu saja dalam pikiran kita, ataupun hadir di dalam mimpi (alam bawah sadar) kita. Apalagi kalau orang tersebut merupakan “mantan terindah” di dalam kisah hidup kita seperti lagunya Raisa. Bikin susah move on ga tuh?! Iya atau iya?!. Teringat akan pembahasan-pembahasan yang pernah diperbincangkan berdua, saat membahas cita-cita dan masa depan, teringat akan saat-saat sulit yang pernah dilewati bersama, teringat akan saat-saat bahagia yang telah dilewati. Uuh sweet banget ga tuh?! Eh pas sadar ternyata si doi sudah berpindah ke lain hati. #Nyeees.

Beruntung banget bagi teman-teman yang tidak mempunyai mantan kekasih, mantan gebetan, ataupun mantan selir hati (Alias langsung menikah dengan dia yang memang sudah ditakdirkan untuk bersama). Untuk yang seperti saya, mempunyai mantan yang pernah mampir di hati. Yuk mari kita hijrah bersama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Biarlah itu menjadi masa lalu kita, karena masa lalu tidak dapat dirubah namun diri ini masih mempunyai masa depan yang suci. Reset hati kembali karena perasaan-perasaan yang tidak semestinya hadir sebelum waktu itu tiba. Memang tidak mudah, namun selama kita disibukkan dengan mencintai Sang Pemilik hati yaitu Allah SWT, insyaallah jalan kita akan dipermudah untuk berhijrah. Memangnya Mardhiyah sudah hijrah, berani berbicara seperti itu?! Justru itu, Mardhiyah juga masih tahap belajar untuk istiqomah dalam berhijrah, yuk sama-sama saling mengingatkan.

Tapi, saya yakin teman-teman semua kini telah menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Sudah berhasil move on dari saat-saat terpuruk itu, sudah bangkit dengan hati yang lebih kuat dan tidak gampang goyah. Yang terutama telah sadar, bahwa itu semua merupakan dosa. Kok dosa Mar?! Iya, itu semua termasuk zina. Walaupun tidak saling bersentuhan, tetapi hati saling bersentuhan, apalagi jika saling terbayang ataupun menghayal satu sama lain yang belum mahramnya. Tidak lain dan tidak bukan, itu merupakan zina hati. Tidak terlihat, namun kita sendiri yang mengetahui dan tentunya Allah SWT yang mengetahui isi hati hambaNya.

Untuk kamu, iya kamu! Terimakasih untuk kamu yang pernah hadir di hati ini, yang kini telah memiliki kehidupan bersama hati yang lain. Yakinlah, takdir Allah SWT memang yang terbaik untuk hambaNya. Terkadang kita sebagai hambaNya hanya keliru dalam memaknai arti dari cinta, kita tak jarang menyalahkan cinta, tanpa sadar bahwa diri kitalah yang salah dalam menanggapi cinta itu sendiri. Bagaimanapun percayalah, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, kita hanya bersalam sapa sekejap. Cintai ia yang memang telah ditakdirkan untuk bersama dengan mengharap ridhoNya, yakinlah bahwa jodoh kita dipilih oleh Allah SWT memang yang terbaik untuk kita. Sungguh tujuan kehidupan ini semata hanya mengharap keridhoanNya, jika ada harapan selain perihal itu maka hati akan kecewa dan terluka.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mau membaca tulisan absurd kali ini, mari kita move on ke arah yang lebih baik lagi. Mantan hadir memang memberikan kenangan tersendiri, namun takdir Tuhan yang terbaik untuk kita. Terima saja dengan ikhlas semua ketentuanNya, yakinlah akan hadir hati yang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang memang ditakdirkan untuk menggenapi kehidupan kita. 

Jika ditemukan kesalahan kata, jangan sungkan untuk memberitahu di kolom komentar. Karena apalah arti tulisan ini tanpa kritik dan saran dari teman-teman semua.

Salam ukhuwah : Saya Rodhiyatum Mardhiyah